Wajah depan SMP Negeri 1 Gudo

Disinilah kami semua sukses beraktifitas.

Taman Hijau

Taman yang hijau membuat kami betah bekerja disini

Taman Yang Indah

Lingkungan dan taman yang indah membuat orang betah berada disekitarnya

Ruang Multimedia

Di ruang ini kami belajar dengan fasilitas multimedia yang membuat kami jauh lebih mudah mengerti dan memahami apa yang telah disampaikan oleh guru.

Ruang Belajar

Disinilah kami semua beraktifitas untuk mendapatkan apa yang belum pernah kami dapat, dan belajar untuk masa depan

Senin, 07 November 2011

Khutbah Idul Adha 1432 H : Cinta Itu Perlu Berkoban

Julaeni, S.Pd.,M.Si.
Oleh : Julaeni, SPd., M.Si.
Hadirin jama’ah Idul Adha Rohimatullah

Idul Adha disebut juga Idul Kurban. Kurban berasal dari kata "Qaraba" Yang artinya "dekat". Dari kata ini bisa dibentuk kata "karib", sahabat karib artinya, sahabat dekat. Jadi hakikat ibadah kurban adalah usaha mengorbankan sebagian rizki kita dengan tujuan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, karena rasa cinta kita pada Allah. Bukanlah cinta itu perlu pengorbanan?. Demikian pula sebagai bukti cinta kita pada Allah kita rela berkurban.

Sudah dicontohkan dalam sejarah yang tercantum dalam Al-Qur'an, bahwa Nabi
Ibrahim AS. diuji oleh Allah SWT sejauh mana cinta Nabi Ibrahirn pada Allah dibanding cintanya pada putra kesayangannya Ismail AS.
Artinya : "Ketika Ismail mulai dewasa, Ibrahim berkata : "Hai putraku, sesungguhnya aku diperintah oleh Allah lewat mimpiku untuk menyembelih kamu, bagaimana pendapatmu? lsmail meniawab "Wahai putranya sendiri. Dan sebagai hadiah atas Bapak, silahkan kerjakan perintah itu, Insya Allah kita termasuk orang-orang yang sabar”.

Sejarah telah membuktikan bahwa Nabi Ibrahim AS cinta pada Allah melebihi cintanya pada lainnya, termasuk pada putranya sendiri. Dan sebagai hadiah atas cinta dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Akhirnya Allah mengganti Nabi Ismail dengan domba jantan yang besar.
Artinya : ”Lalu Aku ganti Ismail dengan domba gibas yang besar” (QS Ash Shaffat 107)

Sejarah pengorbanan demi membuktikan kadar cinta kedua nabi pilihan di atas akhirnya dijadikan pedoman awal diberlakukannya perintah ibadah kurban. Qur’an Surat Al-Kautsar 1 s/d 3 Allah mempertegas perintah berkurban tersebut :
Artinya : "Sesungguhnya Aku (Allah) telah melimpahkan nikmat kepadamu, maka bersholatlah kamu pada Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang benci terhadapmu diputus pahalanya oleh ALlah" (Qs. Al-Kautsar 1.3)
Memperkuat ayat tadi, untuk perintah kurban ini Rosululloh bersabda:
Artinya : "Barang siapa memlliki ketebihan rizki tapi tidak mau berkorban maka iangan sekali-kali mendekati tempat ibadahku".

Dari ayat Al-Qur’an hadist dan uraian di atas dapat disarikan bahwa :
1. Ibadah kurban itu betul-betul perintah Allah dan rnerupakan ajaran agama Islam.
2. Kurban menjadi bukti sejauh mana iman seseorang pada Allah, sejauh mana rasa cinta hamba pada pencipta-Nya, sejauh mana keingin dekatan makhluk pada Al Kholiq-Nya.
3. Kurban merniliki makna sosial, artinya ibadah kurban melatih mental kita agar jadi orang tidak individualistis, tidak egois dengan jalan mau mengorbankan harta pribadi untuk sesama yang fakir dan miskin.

Bila seorang hamba berkurban bukan berarti daging dan darah kurban itu yang diterima oleh Allah, melainkan cinta dan taqwanya yang diterima oleh Allah azza wajalla.
Artinya : ”Allah tidak menerima daging dan darah (hewan kurban) telapi menerima taqwa kita". (Qs. Al-Hajj : 37)

Untuk itu marilah berkurban untuk-Nya dan raihlah cinta-Nya demi kebahagian kekal kita kelak.
Kita korbankan kesenangan dunia yang sementara dan semu, untuk kebahagian abadi kita di akhirat kelak. Jangan sekali-kali dibalik, mengorbankan cintanya pada Allah hanya demi kesenangan dunia yang sesaat. Misalnya : jelas-jelas dan surau atau masjid yang dekat rumah berkumandang adzan memanggil kita untuk sholat berjama'ah, tapi lantaran cintanya pada film di televisi kesempatan Jama'ah sholat itu hilang begitu saja, atau hanya karena tokonya laris, maka sholat lima wakfunya terabaikan. Contoh lain, karena merasa nyaman tidur sampai pagi, sholat Subuh hilang, dan sebagainya.

Bila direnungkan secara seksama, berapa lamakah kita hidup di dunia? Kalau pakai patokan Rasululloh Muhammad SAW paling berkisar 6A-70 tahun. Atau kalau Allah berkenan memberikan discount 40 % bisa 80-90 tahun. Bahkan bila ada yang istimewa bisa sampai 100 tahun. Itupun bisa dihitung dengan jari. Umur di dunia yang hanya sekian itu bila kita bandingkan dengan hidup di akhirat kelak jauh sekaii berbeda. Kita di sana kelak tidak hanya puluhan ribu tahun, mungkin ratusan ribu tahun, jutaan tahun atau bahkan milyaran tahun. Kholidina fihaabadan. Abadi selama-lamanya.

Haruskan kebahagiaan abadi kelak sirna hanya karena kesenangan sesaat di dunia ini? Tidak! Jangan! Sekali lagi jangan! Melalui hikmah ldulAdha kali ini mari kita luruskan Iangkah hidup kita. Melalui proses ibadah kurban saat ini, mari kita ambil pelajaran bahwa kita berupaya mencari harta, tahta, prestasi dan sebagainya semata-mata untuk bekal menghamba pada Allah. Apa yang kita buru di dunia ini (harta, tahia, dan sebagainya) bukanlah tujuan utama kita. Itu semua diupayakar dan setelah kita dapatkan kita jadikan sebagai alat atau sarana untuk membuktikan betapa sangat cinta kita pada Allah SWT. Cinta kepada Allah berarti memenuhi segala permintaan atau perintah-Nya, dan menghindari jauh-jauh, segala yang tidak disenangi-Nya, dan setiap berkorban apa saja demi meraih cinta-Nya.

Idul Adha disebut juga Hari Raya Haji. Kita bisa mengambil hikmah dari ibadah yang saat ini sedang dijalankan oleh 1 juta Iebih muslimin-muslimat sedunia. Mereka datang dari berbagai penjuru pelosok dunia Mereka datang di Baitullah dengan mengorbankan biaya yang tidak sedikit, hampir 30 juta. Padahal dengan uang sebesar itu bisa untuk membangun sebuah, rumah atau bisa untuk membeli 120.000 sunduk sate ayam. Tapi, mengapa itu tidak mereka lakukan? Mengapa mereka justru pergi ketempat yang kalau siang super panas sebaliknya kalau malam terkadang super dingin? Jawabnya jelas, mereka ingin memenuhi panggilan Allah. Mereka ingin dekat dengan Allah. Mereka berkurban untuk meraih cinta dan ridho Allah SWT merekapun berseru.
Artinya : "Aku sambut panggilan-Mu wahai Tuhan, aku sambut panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu Sesugguhnya segala puji dan nikmat itu milik-Mu wahai raja di raja, tidak ada sekutu bagi-Mu”

Mereka di sana tidak lagi dibedakan oleh kaya miskin, berpangkat atau rakyat, ganteng atau cacat. Di mata Allah yang mulia di sisi-Nya adalah yang paling taqwa pada Allah, yang paling cinta pada Allah. Harta, tahta tidak lagi jadi patokan kemuliaan seseorang.

Kita kaum muslimin yang tidak melakukan ibadah haji disyari'atkan untuk sholat ldul Adha di tempat masing-masing, Semua berdiri bersyof-syof lurus rapat, dipenuhi oleh semangat rasa persamaan dan rasa persatuan. Ruku' sama ruku’, sujud sama sujud, duduk sama duduk, di bawah satu kornando imam. Di dalam sholat itu tidak liagi dibedakan antara guru dan nrurid, antara petinggi dan bawahan, dan sebagainya. Di mata Allah semua sama. Masing-masing bisa berdiri di belakang atau di depan.

Jadi jelas, dari tiga hal penting dalam perayaan ldul Adha, yaitu : penyembelihan kurban, ibadah Haji dan sholat ldul Adha dapat disirnpulkan bahwa Allah rnemandang manusia bukannya dikotak-kotak oleh kasta, Tidak digolong-golongkan berdasarkan harta, Tidak dipilah-pilah menurut derajat pangkat, narnun Allah memandang insan berdasarkan kualitas dan kuantitas taqwanya.
Artinya: ”Sesungguhnya orang yang paling mulia di depan Allah adalah orang yang paling taqwa"

Semoga Allah berkenan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang paling taqwa, hamba-Nya yang mengutamakan cintanya kepada Allah melebihi cintanya pada yang lainnya. Amin.

Minggu, 08 Mei 2011

WEJANGAN 4M UNTUK RUMAH TANGGA

Dari sebuah Mauidloh disampaikan, bahwa dalam rumah tangga hendaknya bisa melakukan 4M yaitu Mlumah, Mengkurep, Modot dan Mengkeret.

Makna dari 4M tersebut sebagai berikut:
M yang pertama adalah “Mlumah” yang artinya dalam membina rumah tangga hendaknya saling ada keterbukaan, tidak ada yang ditutupi, tidak ada rahasia diantara berdua, bila ada masalah hendaknya bisa dikomunikasikan satu sama lain (suami/istri).

M yang kedua adalah “Mengkurep” yang artinya sebagai suami hendaklah bisa melindungi sang istri dalam segala hal, yang mana jangan hanya nikmatnya saja ia mau, ketika sang istri sedang dirundung duka atau masalah, sang suami hendaklah bisa menenangkan jiwa sang istri, agar tidak larut dalam kesedihan. Ketika sang istri melakukan kesalahan sang suami hendaklah bisa membimbing dan mengarahkan agar tidak melakukan kesalahan lagi, agar sang istri tidak selalu merasa bersalah.
Suami-istri harus mampu saling menutupi kekurangan masing dihadapan umum, menjaga rahasia keluarga.

M yang ketiga yaitu “Modot” artinya sang istri hendaknya mampu mewujudkan belanja dari suami dengan sebaik-baiknya, sehingga perjalanan dalam rumah tangga dari yang tidak punya menjadi punya, dari punya satu menjadi punya lebih dari satu, namun bukan berarti bersifat konsumtif.

M yang ke empat adalah “Mengkeret” artinya suami-istri harus bisa berbuat hemat, bila pada saat bujangan pendapatan yang diperoleh hanya untuk diri sendiri bebas penggunaannya, maka saat rumah tangga pendapatan itu harus dapat diatur dengan baik di tabung, dalam kata lain tidak lagi bebas dalam penggunaannya terutama untuk diri sendiri. (diringkas oleh denwq)

Minggu, 25 Juli 2010

SELAMAT BERGABUNG DENGAN KAMI
SUKSES .........

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More